Kategori Post

Popular Posts

Gallery Post

Gallery Post
Jalan Lembah Anai
West Sumatra Gallery photo
6-DSC00095Pernah menjadi Ibu Kota Republik Indonesia, Bukittinggi, pada masa agresi Belanda setelah kemerdekaan, Namun banyak yang tidak dituliskan dalam sejarah kemerdekaan tentang kehadiran PDRI (singkatan : Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) baik dalam buku sejarah di sekolah, maupun pengetahuan generasi muda anak Indonesia.

Mungkin ini tulisan kecil tentang PDRI yang pernah menjadikan Sumatera Barat sebagai basis pusat pemerintahan Republik Indonesia setelah kemerdekaan.

Latar Belakang Berdirinya PDRI

Lahir PDRI di sebabkan penyerangan oleh Belanda terhadap Jogyakarta yang saat itu menjadi ibu kota Republik Indonesia, serta di tangkapnya Sukarno Hatta.

Mungkin kutipan dari majalah Suara Hidayatullahdi bawah ini dapat menceritakan tentang PDRI

***
PDRI terbentuk, ketimpangan antara daerah dan pusat malah mencolok. Pusat acuh tak acuh kepada daerah. Protes pun menjadi marak
Dalam untaian sejarah Indonesia, PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) dan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tak bisa dipisah satu sama lain. Kedua peristiwa ini bagai mata rantai yang saling melengkapi.
PDRI dibentuk pada 19 Desember 1948 di Bukittingi, Sumatera Barat, oleh Syafruddin Prawiranegara. Sedang PRRI dicetuskan 10 tahun kemudian, tepatnya tanggal 15 Pebruari 1958, di Padang, Sumatera Barat, oleh Ahmad Husein. Syafruddin sendiri kemudian diangkat sebagai Perdana Menteri dalam pemerintahan yang baru ini.
Ihwal terbentuknya PDRI bermula ketika Belanda melancarkan agresi kedua dengan menduduki ibukota negara yang saat itu berkedudukan di Yogyakarta. Ketika itu, Belanda juga menawan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Beberapa jam sebelum ditawan, Soekarno sempat menyurati Syafruddin selaku Menteri Kemakmuran RI yang saat itu sedang menjalankan tugas di Bukittinggi, Sumatera Barat. Surat itu berisi mandat kepada Syafruddin agar segera membentuk PDRI. Tanpa ada hambatan, sehari setelah itu, pemerintahan darurat terbentuk.
Perjalanan PDRI selanjutnya jelas tak mulus. Syafruddin dan kawan-kawan terus diburu Belanda yang tak senang dengan berdirinya pemerintahan baru. Roda pemerintahan terpaksa digerakkan dengan cara bergerilya di hutan-hutan Sumatera Barat.
Upaya Syafruddin menyelamatkan bangsa dari ketiadaan pemerintahan boleh dikata berhasil. Melalui pemancar radio di Koto Tinggi, PDRI telah membukakan mata internasional untuk mengakui kedaulatan RI.
Agresi militer Belanda berhenti. Soekarno dan Hatta dibebaskan. PBB mengakui kedaulatan Indonesia.
Seiring keberhasilan ini, cerita tentang PDRI juga ditutup dengan happy anding yang mengharu-biru. Setelah dijemput oleh Muhammad Natsir ke Payakumbuh, Syafruddin berangkat ke Yogyakarta untuk mengembalikan mandat pemerintahan kepada Presiden Soekarno.
Di Lapangan Koto Kaciak, keberangkatan Syafruddin dilepas dengan tangis haru ribuan masyarakat dan para pejuang yang telah berbulan-bulan keluar masuk hutan demi menyelamatkan PDRI. Selama berada di hutan, mereka mengandalkan budi baik masyarakat yang kerap mengirimi mereka nasi bungkus untuk menunjang hidup.
 

Share this
0 comments
Mungking nama Ajo Andre tidak lagi setenar waktu tahun 2009, ketika musik minang di sungguhkan dengan musik yang bercerita kocak dengan bahasa minang dan di lanjutkan berdendang sambil bernyanyi yang di bawakan Ajo Andre, telah meninggal dunia. pesan berantai ini di dapat dari salah satu group di media sosial
Inna lilahi wa Inna Illaihi Rajiun 
Seniman Minang berduka. Telah berpulang ke Rahmatullah Komedian Tanah Minang AJO ANDRE SIKUMBANG, 
jam 08:00wib pagi ini di TANDIKEK 7 Koto Pariaman.semoga arwah dan amal ibadah beliau diterima ALLAH SWT, keluarga diberi ketabahan dan kesabaran, kami akan selalu mengenang jasa dan kiprah mu untuk kesenian minangkabau. selamat jalan, sahabat, selamat jalan Saudaraku
Selama jalan Ajo....

musik-musik ajo andre, mirip kocak warkop waktu masih di radio

bagi yang ingin mendengar lagunya (kondisi masih kena stroke)
 Saat musik nya terkenal

Share this
0 comments
Presiden Republik Indonesia yang Ke 7 , Bpk. Jokowi (Joko Widodo), akan melakukan  kunjungan ke Sumatera Barat pada akhir bulan September 2015, namun sebelumnya juga pernah direncanakan untuk mengunjungi peresmian kawasan wisada Mandeh di Pesisir Selatan, akhirnya hanya di hadiri oleh satu menteri, jika memang agenda kunjungan ini terlaksanakan, maka ini adalah kunjungan pertama semenjak di lantik menjadi Presiden, kunjungan ini juga bertepatan dengan hari raya umat muslim Idul Adha, dari beberapa situ media online, Presiden Jokowi akan melaksanakan sholat i'd di Masjid Sumbar namun ada juga di Bukittinggi. di bawah ini kutipan berita dari salah satu media online
PADANG – Presiden Joko Widodo direncanakan berkunjung ke Sumbar pada 23 September mendatang. Selain meninjau sejumlah objek wisata dan peternakan sapi, presiden akan Shalat Idul Adha di Bukittinggi.
“Dari informasi sementara yang kita dapat, kedatangan Presiden sudah ada jadwalnya, namun itu bisa berubah,” sebut Kepala Biro Humas Setdaprov Sumbar melalui Kasubag Pemberitaan, Fadli Tanjung, Kamis (17/9).
Dari informasi yang didapatkan Humas, agenda Presiden Jokowi di Sumbar ada dua hari, Rabu (23/9) dan Kamis (24/9).
Hari pertama, Jokowi usai mendarat di Bandarat Internasional Minangkabau (BIM), sekitar pukul 10.00 WIB meninjau kawasan wisata Mandeh di Pesisir Selatan. Untuk menuju kesana, Presiden akan menggunakan pesawat heli jenis Super Puma.
Kemudian, sekitar pukul 12.00 WIB, Jokowi langsung terbang dari Pessel ke Kabupaten Limapuluh Kota, menggunakan pesawat yang sama. Di Limapuluh kota, presiden akan meninjau areal peternakan sapi, Padang Mangateh.
Kemudian, setelah peninjauan, Jokowi juga akan mencicipi makanan khas Minang. Sekitar pukul 16.00 WIB, akan ada peninjauan rumah kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi.
“Malamnya kalau memungkinan, ada agenda menyapa masyarakat di Jam Gadang, tapi ini masih tentatif,” ujarnya.
Kemudian, esoknya hari kedua, Jokowi akan mengikuti shalat Idul Adha di Lapangan Wirabraja (Lapangan Kantin) di Bukittinggi. Usai shalat langsung menyapa masyaraka [dok/hariansinggalang]
 Semoga perkembangan pariwisata di Sumatera Barat, semakin menjadi salah satu tujuan wisata nasional.
Share this
0 comments
Foto Bung Hatta [dok/wikipedia]
Mungkin sudah tidak asing lagi nama Bung Hatta, ia adalah salah satu putra terbaik Sumatera Barat yang memiliki jasa dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.

Tempat Lahir

Bung Hatta sendiri lahir dengan nama asli Muhammad Athar, pada tahun 1902 Bukittinggi, (fort de kock, hindia belanda, nama sebelum kemerdekaan Indonesia, fort de kock adalah nama bukit tinggi semasa pemerintahan hindia belanda).

Rumah kelahiran bung Hatta masih dapat kita temui di jalan, Hung hatta Buki Tinggi, rumah kelahiran Bung Hatta terletak di dekat Pasar Banto, sekitar 150 meter, namun kondisi rumah ini tidak seperti rumah-rumah yang pernah di singgahi atau di diami oleh Sukarno, rumah kelahiran Bung Hatta, tidaklah sulit untuk kita cari, hanya rumah ini yang masih tersisa dari deretan ruko-ruko yang berdiri.

Perjuangan Bung Hatta.

Bung Hatta, merupakan orang terpelajar pada masa itu, seperti yang terdapat pada buku otobiografi tentang bung Hatta "untuk negeriku". perjuangan bung hatta telah di mulai sejak sekolah di Belanda, di mulai dengan organisasi sosial hingga membawa Bung Hatta mengenal beberapa tokoh tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia termasuk Sukarno.

Pertemuan Dengan Sukarno

Berawal dari perundingan penyatuan Partai Persatuan Indonesia dan Pendidik Nasional Indonesia yang di lakukan di Bandung ini lah Sukarno dan Hatta sering bertemu, Sukarno bergerak untuk diplomasi dan orasi sedangkan Bung Hatta bergerak melalui tulisan tulisan.

Pertemuan Bung Hatta dengan Tokoh Minang di zaman Hindia Belanda

Banyak tokoh dan orang Minang yang bertemu dengan Bung Hatta, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam urusan politik, maupun kehidupan masyarakat Minang pada zaman Hindia Belanda
  • Inyiak syekh Djambe, (Ulama minang, zaman Hindia Belanda)
  • Ayub Rais, (Pamannya sendiri, salah satu pedagang besar di Batavia)
  • Suska, Sutan Usman Kasim (salah satu wartawan orang minang, di zaman Hindia Belanda))
  • Datuk Djamik, (seorang pengacara di kota Padang, pada Zaman Hindia Belanda)  
  • Demang Soetan Saibi (Demang di Kota Padang, pada Zaman Hindia Belanda)
  • Nazir Datuk Pamuntjak, (politikus di zaman Hindia Belanda.
Cerita lain tentang Bung Hatta
  • Bung Hatta telah menjadi yatim sejak usia 7 Bulan (wafat ayahnya)
  • Kakeknya dari pihak Bapak seorang Ulama.
  • Kakeknya dari pihak Ibu seorang Pedagang.
  • Bung Hatta Memiliki 1 kakak perempuan se ayah, 4 dari adik perempuan se ibu
  • Bung Hatta usia 19 tahun telah sekolah di Belanda.
  • Bung Hatta pernah di usir dari Bukittinggi, (kena Passenstelse pada Zaman Hindia Belanda) 
  • Bung Hatta pernah kecelakaan tabrakan mobil di daerah Padang Luar.
  • Bung Hatta pernah menginap di rumah Demang Soetan Saibi di Padang.
[tulisan ini di kutip dari berbagai sumber]
Share this
1 comments
Rumah adat Sumatera barat memiliki ciri kas yang unik pada bagian atap, rumah adat ini mengambil kiasan pada salah satu hewan ternak yaitu kerbau. secara fungsi rumah adat ini banyak di gunakan oleh masyarakat Sumatera barat sebagai tempat untuk melakukan kegiatan adat istiadat seperti, pengangkatan gelar penghulu, melakukan rapat kaum untuk bermusyawarah.

secara garis besar rumah adat minangkabau dapat di lihat dari beberapa segi
  • Fungsi
  • Arsitektru
  • Ukiran
  • Proses pembuatan
  • Adopsi
  • Simbol

Rumah Gadang sebagai tempat tinggal bersama, mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri. Jumlah kamar bergantung kepada jumlah perempuan yang tinggal di dalamnya. Setiap perempuan dalam kaum tersebut yang telah bersuami memperoleh sebuah kamar. Sementara perempuan tua dan anak-anak memperoleh tempat di kamar dekat dapur. Gadis remaja memperoleh kamar bersama di ujung yang lain.
Seluruh bagian dalam Rumah Gadang merupakan ruangan lepas kecuali kamar tidur. Bagian dalam terbagi atas lanjar dan ruang yang ditandai oleh tiang. Tiang itu berbanjar dari muka ke belakang dan dari kiri ke kanan. Tiang yang berbanjar dari depan ke belakang menandai lanjar, sedangkan tiang dari kiri ke kanan menandai ruang. Jumlah lanjar bergantung pada besar rumah, bisa dua, tiga dan empat. Ruangnya terdiri dari jumlah yang ganjil antara tiga dan sebelas.
Rumah Gadang biasanya dibangun diatas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku/kaum tersebut secara turun temurun[1] dan hanya dimiliki dan diwarisi dari dan kepada perempuan pada kaum tersebut[2]. Dihalaman depan Rumah Gadang biasanya selalu terdapat dua buah bangunan Rangkiang, digunakan untuk menyimpan padi. Rumah Gadang pada sayap bangunan sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang anjung (Bahasa Minang: anjuang) sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat, karena itu rumah Gadang dinamakan pula sebagai rumah Baanjuang. Anjung pada kelarasan Koto-Piliang memakai tongkat penyangga, sedangkan pada kelarasan Bodi-Chaniago tidak memakai tongkat penyangga di bawahnya. Hal ini sesuai filosofi yang dianut kedua golongan ini yang berbeda, golongan pertama menganut prinsip pemerintahan yang hirarki menggunakan anjung yang memakai tongkat penyangga, pada golongan kedua anjuang seolah-olah mengapung di udara. Tidak jauh dari komplek Rumah Gadang tersebut biasanya juga dibangun sebuah surau kaum yang berfungsi sebagai tempat ibadah, tempat pendidikan dan juga sekaligus menjadi tempat tinggal lelaki dewasa kaum tersebut yang belum menikah.[dok/wikipedia]

Share this
0 comments
Sate salah satu makanan atau kuliner Indonesia, hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki kuliner jajanan kuliner sate, begitu juga di Sumatera barat, jajanan sate tidaklah sulit untuk kita temukan, baik di daerah maupun di kota. di Sumatera Barat sate memiliki rasa yang berbeda-beda, dan beberapa kuah sate juga dapat mewakili dari mana sate itu di buat.

Untuk wilayah kota Padang, sate yang terkenal cukup banyak, mulai dari sate dangung-dangung, sate piaman laweh, hingga sate kms.

Namun ada satu sate yang memiliki ciri kas pada tingkat kepedasannya, 




Share this
0 comments